Sabtu sore kamu buka tool AI. Kamu tulis, “buatkan landing page untuk klinik kecantikan, modern, warna soft, ada tombol WhatsApp”. Dua puluh menit kemudian, halamannya sudah jadi. Tampilannya rapi, animasinya halus, dan kalau dibuka dari HP juga kelihatan bagus.
Kamu kirim ke grup. Teman-teman bilang keren. Senin, ads mulai jalan.
Dua minggu kemudian, ada 1.400 klik tapi chat yang masuk cuma 6.
AI-nya nggak gagal bikin website. Halamannya memang bagus. Masalahnya, website yang enak dilihat belum tentu bikin orang chat. Dua hal itu beda, dan bagian yang bikin orang chat sering nggak ikut dicek karena tampilannya sudah telanjur meyakinkan.
Vibe Coding Sebenarnya Berarti "Tidak Diperiksa Lagi"
Istilah ini dipopulerkan Andrej Karpathy, salah satu pendiri OpenAI, lewat postingannya pada Februari 2025. Collins Dictionary lalu memilihnya sebagai Word of the Year 2025.
Kalau orang ngomongin vibe coding, biasanya yang dibahas cuma “bikin pakai AI”. Padahal inti definisinya ada di bagian lain.
MIT Technology Review menjelaskan bedanya. Saat orang memakai AI buat bantu coding seperti biasa, hasilnya tetap diperiksa dan disesuaikan sambil dikerjakan. Di vibe coding, AI dibiarkan mengambil banyak keputusan dan orangnya memilih nggak terlalu memeriksa kode yang keluar. Karpathy bahkan pernah bilang kalau ada error, dia tinggal copy-paste error itu kembali tanpa komentar, lalu biasanya masalahnya beres.
Nah, ini yang perlu diperhatikan.
Yang bikin sesuatu disebut vibe coding bukan karena pakai alat AI. Masalahnya muncul saat bagian mengecek hasil ikut dilewati. Kalau kamu lagi bikin proyek iseng di akhir pekan, mungkin nggak ada dampak besar. Tapi kalau halaman itu mau dipakai buat ads dengan budget Rp15 juta, bagian mengecek ini yang menentukan apakah orang akan lanjut chat atau pergi.
Kamu bukan lagi bikin proyek iseng. Halaman itu dipakai buat jualan.
Yang Kamu Dapat Gratis (dan Sampai Mana Gratisnya)
AI memang sudah jago buat banyak hal. Itu perlu diakui dulu.
Dia bisa bikin layout yang rapi, jarak antar elemen yang konsisten, font yang cocok, warna yang nyatu, dan tampilan yang tetap enak dilihat di HP. Hero, bagian manfaat, testimoni, sampai penutupnya juga biasanya sudah tersusun rapi. Ada animasi halus juga.
Sepuluh tahun lalu, hasil seperti ini perlu desainer yang sudah berpengalaman. Sekarang, banyak tool bisa bikin halaman yang kelihatan setara website perusahaan besar. Jadi wajar kalau kamu merasa hasilnya sudah bagus.
Tapi kata “gratis” tetap perlu dihitung dengan benar. Banyak tool memang punya paket gratis yang cukup buat menerbitkan halaman. Biasanya domain sendiri belum termasuk. Alamat seperti klinik-anda.namatool.app masih bisa terasa seperti halaman percobaan buat sebagian calon customer. Kalau mau pakai klinikanda.com, umumnya perlu paket berbayar. Masukkan biaya itu ke rencana dari awal, karena domain sendiri juga berpengaruh ke rasa percaya orang.
Kenapa Halaman Cantik Paling Sulit Dinilai Jujur
Ada riset lama yang pas banget buat menjelaskan kenapa ini bisa terjadi.
Pada 1995, Masaaki Kurosu dan Kaori Kashimura dari Hitachi Design Center menguji 26 variasi tampilan ATM ke 252 peserta. Mereka diminta menilai apakah tampilannya menarik dan apakah ATM tersebut mudah dipakai. Hasilnya, tampilan yang menarik lebih kuat hubungannya dengan rasa “ini gampang dipakai” dibanding dengan kemudahan pakai yang sebenarnya.
Nielsen Norman Group menyebutnya aesthetic-usability effect. Intinya, tampilan yang bagus bisa bikin orang mengira semuanya sudah beres, padahal masih ada masalah yang belum ketahuan saat dicek.
Coba bayangkan halaman AI yang baru kamu buat tadi.
Kamu kirim ke grup WhatsApp dan sepuluh orang membalas, “wah keren”. Tapi nggak ada yang sadar harganya belum tertulis, tombol WhatsApp baru muncul setelah scroll empat layar, atau nomor yang dipasang masih 0812-3456-7890.
Bukan karena mereka nggak teliti. Tampilannya saja sudah bikin semua orang merasa halamannya selesai.
Dulu, halaman yang kelihatan berantakan bikin kamu terdorong buat cek lagi. Sekarang, tampilannya sudah rapi dari awal. Akhirnya bagian yang perlu dicek malah gampang kelewat, padahal halaman itu belum tentu siap dipakai buat ads.
Cek Jarak Antara Bagus dan Menghasilkan
Sepuluh hal yang tidak bisa ditebak AI dari prompt Anda. Centang yang sudah benar-benar ada di halaman Anda.
Skor ini tidak menilai tampilan sama sekali. Halaman paling cantik yang pernah Anda lihat bisa mendapat nol di sini.
Yang Anda punya sekarang adalah desain yang bagus, bukan halaman penjualan. Mengarahkan iklan berbayar ke sini sama dengan membayar orang untuk melihat portofolio AI.
AI tidak pernah melihat iklan Anda. Ia menulis headline yang enak dibaca, bukan headline yang menyambung dengan kalimat yang membuat orang mengklik.
Template AI hampir selalu menaruh CTA di tengah hero desktop yang tampak megah, lalu terdorong jauh ke bawah begitu dibuka di HP.
Tanpa ini, penyaringan calon customer pindah ke inbox WhatsApp Anda dan dikerjakan manual sepanjang hari.
Sepuluh Hal yang Tidak Pernah Ada di Promptmu
Kalau lihat daftar di atas, satu hal yang kelihatan: ini bukan soal desain. Semua isinya adalah informasi bisnis yang cuma kamu yang tahu.
AI nggak tahu iklan mana yang kamu pasang, jadi dia nggak bisa memastikan headline-nya nyambung sama alasan orang mengklik ads. AI juga nggak tahu calon customer kamu biasanya khawatir soal rasa sakit atau lama pemulihan. Dia nggak tahu kamu cuma melayani Jakarta Selatan, atau paket termurah kamu Rp850.000.
Ada tiga masalah yang paling sering kami temui dan biasanya paling bikin rugi:
Nomor WhatsApp masih nomor contoh. Kedengarannya sepele, tapi halaman dengan nomor palsu tetap bisa kelihatan sempurna. Nggak ada error, nggak ada tulisan merah, nggak ada peringatan. Ads bisa jalan dua minggu sebelum ada yang sadar nomor chat-nya salah.
Testimoni karangan. AI bisa mengisi bagian testimoni dengan kutipan dan nama fiktif. Kalau itu dibiarkan, kamu memasang bukti sosial yang nggak bisa dibuktikan. Bukannya bikin orang percaya, hal itu justru bisa bikin ragu. Kami bahas soal testimoni yang meyakinkan di tulisan terpisah.
Tombol WhatsApp di bawah fold mobile. Hero dari AI sering dibuat besar untuk layar lebar. Saat dibuka di HP, tombol WhatsApp-nya bisa terdorong jauh ke bawah. Ini sering banget terjadi. Detail soal posisi CTA WhatsApp kami bahas di anatomi CTA WhatsApp.
Yang Tidak Terlihat Sama Sekali dari Tampilan
Selain isi halaman, ada hal teknis yang nggak akan kelihatan hanya dengan melihat desainnya.
WebAIM melakukan audit tahunan terhadap satu juta halaman depan paling populer di dunia. Laporan 2026 menemukan 95,9% halaman punya kegagalan WCAG 2 yang bisa terdeteksi otomatis, dengan rata-rata 56,1 kesalahan per halaman. Angka itu naik 10,1% dari tahun sebelumnya. Ini juga jadi kenaikan pertama setelah tren perbaikannya berlangsung selama beberapa tahun.
Ada batas yang perlu diingat dari data ini. Audit tersebut melihat website secara umum, bukan khusus halaman yang dibuat AI. Belum ada studi terkontrol yang membandingkan kualitas teknis website buatan AI dan buatan manusia. Jadi kita nggak bisa asal bilang AI penyebabnya. Yang bisa dilihat, tren yang sebelumnya membaik justru berbalik saat bikin halaman makin otomatis dan murah. Itu alasan buat cek lebih teliti, bukan alasan buat merasa aman.
Dua masalah yang paling dekat dengan pengguna sehari-hari adalah kontras teks yang terlalu rendah dan gambar tanpa keterangan. Keduanya bisa bikin halaman sulit dibaca di bawah matahari, di HP murah, atau oleh orang yang penglihatannya sudah nggak sebaik dulu. Calon customer kamu bisa saja ada di situ. Kalau mau cek soal ukuran halaman dan loading, baca juga aturan 3 detik.
Justru di Sini AI Menang Telak
Ini bukan ajakan supaya kamu balik menyewa agensi untuk semua hal.
Dalam CRO, ada satu saran yang sudah lama masuk akal: jangan pakai satu halaman untuk semua ads. Setiap kampanye bisa punya janji dan target orang yang beda. Jadi lebih baik tiap kampanye punya halaman sendiri.
Dulu ini berat buat bisnis kecil. Lima halaman berarti lima kali biaya dan lima kali menunggu prosesnya selesai.
Sekarang, lima halaman bisa dibuat dari lima prompt. Di sinilah AI benar-benar membantu konversi. Bukan cuma karena satu halaman jadi lebih murah, tapi karena bikin halaman khusus per kampanye sekarang jauh lebih masuk akal. Kalau kamu masih bingung kapan perlu halaman terpisah, kami bahas di landing page vs homepage.
Yang penting, isi tiap halaman harus memang beda. Jangan cuma ganti warna tombolnya.
Kumpulkan Bahan Dulu, Baru Prompt
Yang perlu diubah sebenarnya urutan kerjanya, bukan tool-nya. Jangan langsung mulai dengan “buatkan landing page yang bagus”. Kumpulkan lima hal ini dulu, lalu masukkan semuanya ke prompt:
- Kalimat persis dari iklanmu. Salin apa adanya, jangan diparafrase.
- Harga atau rentang harga, plus apa yang termasuk di dalamnya.
- Tiga keberatan yang paling sering muncul di chat. Ambil dari inbox WhatsApp, bukan dari tebakan.
- Dua testimoni asli lengkap dengan nama dan hasil spesifik.
- Area layanan dan satu aksi yang kamu inginkan, ditulis eksplisit.
Prompt yang punya lima bahan ini hasilnya akan beda jauh dibanding prompt satu kalimat. Bukan karena AI mendadak lebih pintar, tapi karena kamu memasukkan informasi yang memang cuma ada di bisnis kamu.
Setelah halamannya jadi, lanjutkan dengan tahap yang tadi sering kelewat: cek hasilnya. Jalankan checklist audit 15 poin sebelum ads mulai jalan. Halaman AI mudah kelihatan meyakinkan, jadi jangan cuma mengandalkan perasaan saat mengeceknya.
Buka landing page kamu di HP, bukan di laptop. Tanpa scroll sama sekali, jawab tiga pertanyaan: berapa harganya, di mana lokasinya, dan apa yang harus saya klik. Kalau salah satu tidak terjawab, itu yang perlu diperbaiki hari ini, bukan warnanya.
Tool AI bisa membuat halaman dalam 20 menit. Tapi dia nggak tahu pengunjung berhenti baca di bagian mana sebelum menutup halaman, elemen mana yang diklik padahal nggak bisa diklik, atau kampanye mana yang banyak bikin orang langsung keluar. Nalar mengukur hal-hal itu dan memberi tahu apa yang perlu diubah di prompt berikutnya. Bikin halaman sekarang sudah murah. Mengetahui halaman mana yang benar-benar menghasilkan uang, belum.