8 min readTerakhir diperbarui

Checklist 15 Poin: Audit Website Kamu Sebelum Menyalakan Iklan (Supaya Budget Tidak Terbakar)

Menyalakan iklan ke website yang belum diaudit sama saja membayar untuk cari tahu di mana bocornya. Checklist 15 poin sebelum budget jalan.

Budget iklan sudah ada. Materinya juga sudah siap, targeting sudah diatur. Tinggal publish. Sebelum itu, cek satu hal dulu: halaman website yang mau kamu iklanin, sudah siap atau belum?

Banyak bisnis ngerasa ads-nya nggak jalan karena leads sepi. Padahal ads-nya tayang dan diklik orang. Yang sering bikin orang batal justru halaman yang mereka buka setelah mengklik iklan. Kalau kamu mau lihat polanya lebih lengkap, kami pernah bahas di artikel jebakan ads jalan leads sepi.

Ini bukan masalah kecil. WordStream menganalisis ratusan akun Google Ads dan menemukan rata-rata conversion rate landing page cuma 2,35%. Sementara itu, 25% landing page terbaik bisa mencapai 5,31% atau lebih. Artinya, dengan budget iklan yang sama, website yang lebih siap bisa mendatangkan leads lebih dari dua kali lipat dibanding rata-rata.

WordStream
What Is a Good Conversion Rate? It's Higher Than You Think!

Kalau website belum dicek sebelum iklan jalan, kamu tetap akan tahu bagian mana yang bikin orang nggak lanjut. Bedanya, kamu baru tahu setelah budget iklannya kepakai.

Ikutin 15 poin di bawah ini buat cek website kamu. Dibagi jadi empat bagian dan bisa dikerjain dalam satu sore. Di beberapa poin, ada juga tautan ke pembahasan yang lebih detail kalau kamu perlu.

Kategori 1: Kecepatan (Poin 1-3)

1. Halaman yang diiklankan bisa kebuka dalam kurang dari 3 detik di HP.

Mulai dari sini. Kalau halaman belum kebuka tapi orang sudah keburu pergi, poin lain nggak sempat dilihat. Menurut Google, 53% kunjungan berpotensi ditinggal kalau halaman butuh lebih dari 3 detik buat loading.

Google
Make your mobile pages load faster

Semakin lama loading-nya, semakin banyak juga yang pergi. Riset Google yang sama menunjukkan kemungkinan pengunjung mobile keluar naik 123% saat loading bertambah dari 1 detik ke 10 detik.

Think with Google
Find Out How You Stack Up to New Industry Benchmarks for Mobile Page Speed

Buka PageSpeed Insights, lalu masukkan URL halaman yang memang dipakai buat ads. Jangan cek homepage kalau iklannya mengarah ke halaman lain. Lihat skor mobile-nya. Soal kenapa website lambat juga bisa bikin orang kurang percaya, kami bahas di artikel kecepatan website dan kepercayaan.

2. Semua gambar sudah dikompresi.

Website bisnis lokal sering lambat karena foto dari kamera atau desain Canva langsung di-upload apa adanya. Ukurannya bisa 3–5MB per file. Kompres gambar di halaman yang mau diiklanin sampai di bawah 300KB. Pakai Squoosh atau TinyPNG saja sudah cukup.

3. Tidak ada link mati di halaman yang diiklankan.

Klik semua tombol dan link satu-satu. Cek tombol WhatsApp, tombol “Lihat Harga”, form, sampai link ke halaman lain. Kalau ada yang masuk ke halaman 404, nomor WhatsApp-nya salah satu digit, atau tombolnya nggak melakukan apa-apa, budget iklan kamu habis buat klik yang nggak ke mana-mana.

Kategori 2: Message Match (Poin 4-7)

4. Headline halaman nyambung sama janji di iklan.

Message match itu sederhananya begini: apa yang disebut di iklan harus langsung ketemu di halaman website. Kalau iklannya bilang “Promo Veneer 30%”, promonya juga harus kelihatan di layar pertama. Jangan sampai orang klik iklan promo, tapi masuk ke homepage generik yang nggak nyambung sama iklannya. Orang jadi ragu dan akhirnya keluar. Ini salah satu masalah yang paling sering kejadian, dan kami bahas lebih lengkap di artikel ad-to-page mismatch.

5. Penawaran utama terlihat tanpa perlu scroll.

Nielsen Norman Group menemukan bahwa 10 detik pertama itu penting. Di waktu segitu, orang biasanya memutuskan mau lanjut baca atau keluar. Jadi, apa yang kamu tawarkan harus sudah jelas sebelum mereka menutup halamannya.

Nielsen Norman Group
How Long Do Users Stay on Web Pages?

Coba buka halaman website kamu di HP dan jangan scroll dulu. Dalam lima detik, apakah orang bisa langsung paham kamu jual apa, ini buat siapa, dan harus klik tombol yang mana? Kalau belum, bagian paling atas halamannya masih perlu dibenahi.

6. Halaman punya satu tujuan konversi, bukan lima.

Orang yang datang dari ads perlu diarahkan ke satu langkah yang jelas. Kalau dalam satu halaman kamu minta mereka follow Instagram, baca blog, download katalog, dan isi form sekaligus, mereka malah bingung mau mulai dari mana. Pilih satu tujuan utama.

7. Bukti sudah kelihatan dari awal.

Tampilkan testimoni dengan nama dan foto asli, hasil sebelum-sesudah, sertifikat, atau alamat lengkap di bagian yang gampang terlihat. Jangan simpan semuanya di halaman “Tentang Kami” yang belum tentu dibuka. Riset eye-tracking Nielsen Norman Group menemukan bahwa pengunjung menghabiskan 57% waktu melihat layar pertama dan 74% di dua layar pertama. Kalau buktinya terlalu jauh di bawah, banyak orang nggak akan sempat lihat.

Nielsen Norman Group
Scrolling and Attention

Kategori 3: Mobile UX (Poin 8-11)

8. Halaman sudah dicek langsung di HP sungguhan.

Jangan cuma lihat dari simulasi browser di laptop. Buka halaman website kamu di Android kelas menengah, karena itu yang dipakai banyak calon pelanggan. Di situ biasanya baru ketahuan font terlalu kecil, gambar kepotong, atau tabel harga yang bikin orang harus geser-geser. Perbedaan pengalaman di desktop dan mobile ini kami bahas di artikel mobile conversion gap.

9. Tombol dan link gampang ditekan pakai jempol.

Tombol kecil yang terlalu berdekatan bikin orang salah pencet. Kalau kejadian berulang, mereka nggak akan repot-repot komplain. Mereka tinggal tutup tab.

10. Tidak ada popup yang langsung nutupin layar saat halaman dibuka.

Popup diskon yang muncul di detik pertama sering bikin orang kesal, apalagi kalau mereka belum sempat baca isi halamannya. Kalau kamu tetap mau pakai popup, kasih jeda dan pastikan tombol tutupnya gampang ditekan dari HP.

11. Form nyaman diisi dari HP.

Coba isi formnya sendiri dari HP, dari kolom pertama sampai tombol kirim. Saat isi nomor HP, keyboard angka harus muncul. Pesan error juga harus jelas. Tombol kirimnya jangan sampai baru kelihatan setelah scroll lagi. Kalau kamu sendiri merasa ribet ngisinya, calon pelanggan kemungkinan besar merasakan hal yang sama.

Kategori 4: Jalur Konversi (Poin 12-15)

12. Ada satu CTA utama yang jelas dan gampang ditemukan.

Untuk banyak bisnis lokal di Indonesia, CTA utamanya biasanya tombol WhatsApp. Tapi tombol WhatsApp yang cuma ditempel begitu saja hasilnya beda dengan yang dipikirkan posisi, teks, dan pre-filled message-nya. Kami bahas itu di artikel optimasi CTA WhatsApp.

13. Form cuma meminta data yang memang perlu.

Baymard Institute menemukan 17% pembeli online membatalkan pesanan karena checkout-nya terlalu panjang atau rumit. Ada juga 19% yang batal karena nggak percaya menyerahkan data kartu ke website tersebut. Prinsipnya sama buat form leads: semakin banyak kolom yang kamu minta, semakin besar kemungkinan orang berhenti di tengah jalan.

Baymard Institute
50 Cart Abandonment Rate Statistics

Biasanya nama, nomor WhatsApp, dan satu pertanyaan buat menyaring kebutuhan sudah cukup. Kalau mau tahu kolom mana yang paling sering bikin orang batal isi form, baca artikel form abandonment.

14. Tracking konversi sudah terpasang dan sudah diuji.

Pengunjung memang nggak melihat tracking, jadi poin ini sering kelewat. Padahal kalau tracking-nya salah, kamu nggak tahu iklan mana yang benar-benar mendatangkan leads. Algoritma iklannya juga bisa belajar dari data yang salah. Sebelum ads dijalankan, coba kirim satu lead test dan pastikan datanya muncul di dashboard.

15. Ada orang atau sistem yang bisa membalas leads dengan cepat.

Website bisa saja sudah beres, ads sudah jalan, dan leads sudah masuk. Tapi kalau lead masuk jam 8 malam lalu baru dibalas jam 10 pagi besoknya, besar kemungkinan orangnya sudah chat tempat lain. Apalagi calon pelanggan biasanya membandingkan 2–3 penyedia sekaligus. Siapkan template balasan dan tentukan siapa yang pegang chat sebelum ads dijalankan.

Sekarang, Nilai Websitemu Sendiri

Saat mencentang, jangan pakai patokan “kayaknya sudah oke”. Cek dan buktikan hari ini. Ada beberapa poin kritis yang nggak sebaiknya ditunda. Kalau salah satunya belum beres, lebih baik mundur seminggu daripada baru sadar setelah budget iklan habis.

Pre-Flight Audit: 15 Poin Sebelum Iklan

Centang setiap item yang sudah benar-benar Anda verifikasi (bukan yang Anda rasa sudah oke). Skor dan verdict muncul di bawah.

Kecepatan
0/3
Message Match
0/4
Mobile UX
0/4
Jalur Konversi
0/4
0/ 15

Tahan dulu budget Anda

Masih ada 6 item kritis yang belum beres. Menyalakan iklan sekarang berarti membayar untuk mengirim pengunjung ke halaman yang bocor. Selesaikan item bertanda kritis lebih dulu.

Aksi Nyata untuk Hari Ini

Sediakan waktu 2 jam sore ini. Buka halaman yang mau diiklanin dari HP, lalu cek satu-satu mulai dari poin 1. Dahulukan yang paling penting: kecepatan, message match, cek di HP asli, CTA utama, dan tracking konversi. Kalau lima hal itu sudah beres, baru tentukan kapan ads mulai jalan.

Audit Sekali Itu Bagus. Audit Terus-Menerus Itu Beda Kelas.

Checklist manual seperti ini hanya menunjukkan kondisi website kamu saat dicek. Hari ini mungkin aman. Bulan depan, tim bisa menambah banner promo yang bikin halaman lebih berat, mengganti headline sampai nggak cocok lagi dengan iklan, atau memindahkan tombol WhatsApp. Masalahnya muncul lagi, tapi sering baru kelihatan saat hasil ads mulai turun.

Nalar dibuat buat membantu memantau hal-hal seperti itu secara otomatis. Sebelum ads jalan, rekomendasi AI-nya bisa menunjukkan poin checklist mana yang belum beres di website kamu. Setelah ads berjalan, Nalar melihat apa yang dilakukan pengunjung: mereka scroll sampai mana, berhenti di kolom form yang mana, atau klik tombol apa yang nggak menghasilkan apa-apa. Kalau ada masalah baru, kamu akan tahu apa yang perlu diperbaiki.

Kalau sekarang posisinya budget sudah siap tapi kamu masih ragu sama websitenya, kerjakan checklist ini dulu. Gratis dan bisa selesai sore ini. Kalau kamu ingin pengecekan seperti ini jalan tiap hari tanpa harus dicek manual, lihat bagaimana Nalar memeriksa kesiapan website secara otomatis. Budget iklan terlalu mahal buat dipakai coba-coba cari masalah di website.

Keep Reading

Konsultasi via WA